Saturday, March 12, 2011

SEJARAH KAPAL PLTD APUNG 1

                                                      KAPAL PLTD APUNG 1            
Alhamdulillah akhirnya teman bisa melihat dan menaiki kapal yang sebesar ini yang ternyata ia merupakan bahan peninggalan sejarah yang amat besar nilaianya di mata Manusia khususnya rakyat Aceh Darussalam, ketika difikirkan dengan akal, mana mungkin sabuah kapal yang begitu besar sosok tubuhnya ini bisa berada di atas darat yang mana kebaradaannya yang sebenar berada jauh nun di sana di tengah2x lautan yang mendalam. Ingatlah wahai manusia akan janjiNya:
FirmanAllah swt : 
                           ( 82) إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ  
82. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. ( Surah Yaasin: 82)

" Manusia hanya ada bisa akan tetapi Allah maha kuasa"
 
sEJarAh PLTD APUNG 1 Dan Fungsinya Hingga Hari Ini :
Gempa bumi dan tsunami menghancurkan kondisi pesisir di wilayah Aceh dan Nias serta beberapa Negara tetangga lainnya. Gelombang tsunami yang terjadi pada tanggal 24 Desember 2004 awalnya membawa dampak yang sangat besar terhadap sosial, ekonomi-psikologis serta kondisi fisik wilayah Aceh. Pembangunan Aceh yang sangat pesat difasilitasi oleh BRR dan dengan bantuan NGO-NGO internasional. Bantuan yang diberikan tidak terbatas pada pembangunan kondisi fisik rumah, jalan, jembatan, serta sarana publik lainnya yang dianggap penting untuk keberlanjutan masyarakat Aceh pasca tsunami.

Gempa bumi dan tsunami memberikan kemajuan serta kemakmuran kepada masyarakat yang selamat dari gelombang besar yang menenggelamkan harta dan benda serta anggota keluarga lainnya. Masyarakat korban tsunami yang selamat mendapatkan bantuan dari para NGO dan BRR mulai dari sarana kebutuhan primer, sembako, pembangunan barak pengungsian, rumah, pembangunan sarana air, sarana kesehatan, sarana olah raga, bangunan pertemuan, gedung pemerintahan, pelatihan usaha, bantuan modal, hingga bagaimana keberlanjutan kehidupan selanjutnya masih mendapatkan perhatian yang layak dari para NGO dan sepeninggalan BRR di bulan April 2009.

Pembangunan pengenangan musibah besar tersebut juga mendapatkan bantuan seperti pembangunan museum tsunami yang dibangun di sebelah barat simpang Jam sebelum makam penjajah Belanda. Pembangunan tugu peringatan tsunami di beberapa daerah dan titik-titik capaian gelombang tsunami di daratan, serta pembangunan kawasan wisata tsunami berlokasi di Kelurahan Punge Blang Cut. Di kelurahan ini dibangun kawasan wisata yang bertajuk kawasan edukasi tsunami yang bersebelahan dengan lokasi terdamparnya Kapal PLTD Apung I.

Kapal PLTD Apung I adalah salah satu kapal yang terhempas sejauh lebih kurang 5 km dari kawasan pelabuhan Ulee-lheu hingga sampai ke Kelurahan Punge Blang Cut. Kapal PLTD Apung I mempunyai berat 3.600 Ton terhempas berkeliling mengikuti arah ombak tsunami dan akhirnya terdampar di sebelah Masjid Subulussalam Kelurahan Punge Blang Cut Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh. Menurut warga sekitar terdamparnya Kapal Apung I tersebut juga berdampak pada kerusakan rumah-rumah disekitarnya sebagai akibat benturan dan tertabrak hempasan jangkar kapal yang menyapu hampir semua jalan yang dilaluinya. Kapal PLTD Apung I berbadan besi dan memiliki 3 lantai yang masing-masing lantainya dimaksimalkan untuk penyediaan mesin pembangkit listrik berbahan bakar solar dengan bantuan air laut sebagai pendingin dan peredam getaran jika mesin-mesin tersebut difungsikan secara maksimal. Kapal PLTD Apung I menyediakan listrik untuk masyarakat Nangroh Aceh Darusalam (NAD).

Kapal PLTD Apung I sudah lima tahun (2004-2009) terdampar dan menjadi salah satu keajaiban tsunami di Aceh. Kapal PLTD Apung I memberikan peluang usaha dan menjadi peluang masyarakat sekitarnya untuk dapat melakukan pengelolaan kawasan wisata PLTD Apung I dan Taman Edukasi Tsunami. Selama lima tahun pula, penjagaan dan pengelolaan Kapal PLTD Apung I dilakukan oleh Pemuda Punge Blang Cut. Mereka merasa perlu untuk melakukan pengelolaan kawasan wisata tersebut sebagai usaha untuk memberikan sumbangan dan berkarya meningkatkan kreativitas pengelolaan kawasan wisata berbasis kepada kekuatan sendiri.

Pemuda Punge Blang Cut (Pemuda PBC) memberikan perhatian terhadap kawasan wisata tersebut dengan cara bergotong royong dan kelompok. Pengelolaan dilakukan secara bersama-sama dalam kelompok-kelompok kecil yang bertugas dan mempunyai jadwal piket di setiap harinya. Pengelolaan kawasan wisata PLTD Apung I dan Taman Edukasi Tsunami tidak seperti pengelolaan kawasan wisata lainnya, yang memerlukan biaya masuk dengan tarif tertentu yang telah ditentukan sebagai biaya operasional dan sebagai sarana pencari keuntungan perusahaan pengelola kawasan wisata. Pengelolaan kawasan wisata kawasan PLTD Apung I dilakukan tanpa pungutan biaya bagi para pengunjungnya. Para pengunjung biasanya memberikan uang secara sukarela yang dimasukkan ke dalam kotak khusus untuk menampung peranserta pengunjung kepada kepedulian Pemuda Punge Blang Cut (Pemuda PBC) yang setiap harinya menyediakan tenaganya secara bergantian untuk menjaga dan mengawasi pengunjung baik untuk menghindari kecelakaan yang tidak diinginkan atau untuk alasan keamanan dari pengunjung lainnya yang tidak bertanggung jawab. Pemuda PBC secara tidak langsung – untuk saat ini – menjadi penitia besar pengelola kawasan wisata Kapal PLTD Apung I secara mandiri tanpa bantuan Dinas Terkait baik dari Tingkat Kota Madya maupun dari Pemerintahan Propinsi.

Kepengurusan Pemuda PBC memberikan pelayanan kepada seluruh wisatawan atau pengunjung secara adil tanpa mempedulikan asal dan kewarganegaraan mereka. Pemuda PBC memberikan layanan berupa: 1) Pelayanan informasi wisata yang diberikan untuk menambah informasi tentang sejarah Kapal PLTD Apung I terutama bagi mereka yang tertarik terhadap kajian realita historis keberadaan kawasan wisata tersebut.
 
2) Layanan pendampingan wisata. Dalam hal ini mereka memberikan fasilitas pendapingan (guide) yang bebas dari biaya kecuali para pengunjung memberikan fee secara ikhlas kepada petugas yang sudah disediakan di Kantor Pemuda PBC. Kantor sekretariat Pemuda PBC terletak hanya 10 meter dari Kapal PLTD Apung I, tepatnya terletak di dalam kawasan wisata tersebut. 3) Layanan parkir yang luas. Layanan parkir disediakan di sebelah Kapal PLTD Apung. Penyediaan parkir merupakan salah satu kegiatan pemuda untuk memberikan keamanan terhadap kendaraan-kendaraan pengunjung. Panitia juga mengharapkan bahwa kunjungan yang dilakukan dapat menjadi maksimal dengan menikmati seluruh sudut dan lokasi wisata tanpa lagi memikirkan keamanan kendaraan yang dibawanya. Panitia mengumpulkan balas jasa parkir setiap hari untuk dikumpulkan sebagai uang kas Pemuda PBC. 4) Layanan penyediaan souvenir. Layanan ini diberikan dengan menyediakan kios-kios kecil yang berisi barang-barang yang berkaitan dengan PLTD Apung I dan barang-barang khas Aceh sebagai oleh-oleh. Barang-barang bisa didapat dengan memberikan uang sesuai dengan harga yang ditentukan sebagai biaya ganti pembelian di tempat produksinya. Kios-kios tersebut disediakan secara mandiri oleh pemuda untuk memberikan kemudahan pengunjung memperoleh barang-barang sebagai kenang-kenangan kunjungan wisata di kawasan wisata tersebut. 5) Layanan dunia maya juga disediakan dalam rangka mensosialisasikan potensi dan dinamika kawasan wisata Kapal PLTD Apung I. Layanan dunia maya dapat diakses melalui http://www.pemudapungeblangcut.multiply.com/ yang dibuat sebagai bentuk eksistensi Pemuda PBC dalam rangka eksistensi kelembagaan dalan rangka penyiaran pengelolaan Kawasan Wisata Kapal PLTD Apung I dan Taman Education Tsunami serta memfasilitasi para pihak dalam rangka terbentuknya karakter civil society masyarakat Aceh yang madani.

 
 
Gambar di atas Kapal PLTD APUNG 1
Pengelolaan Kawasan Wisata Kapal PLTD Apung I dilakukan melalui sistem kerja komunal dengan tugas yang saling berkaitan dan bekerjasama untuk menggapai tujuan yang diinginkan. Adapun tujuan umum pengelolaan kawasan wisata Kapal PLTD Apung I adalah untuk menjaga asset peninggalan dan keajaiban tsunami dalam bingkai pengelolaan berbasis masyarakat lokal yang mandiri. Sedangkan tujuan khususnya adalah:

1) Menjaga kelestarian kekayaan dan keajaiban tsunami agar berlanjut sepanjang masa;
2) Memberikan pengelolaan yang maksimal dan pelayanan kepada pengunjung agar dapat menikmati keajaiban tsunami dengan lebih nyaman dan aman;
3) Memberdayakan potensi lokal masyarakat khususnya kepada pemuda PBC yang mempunyai kreativitas untuk memajukan potensi lokal yang ada di daerahnya;
4) Menunjukkan kepada para pihak bahwa pengelolaan mandiri kawasan wisata oleh masyarakat dapat terlaksana dengan baik dan berdaya guna untuk keberlanjutannya;
5) Secara teoritis menginisiasi praktek-praktek pengelolaan manajerial civil society yang nyata dan berkualitas.

Pencapaian tujuan di atas dilaksanakan melalui kerja keras dengan konsolidasi yang melibatkan peran-peran kekuatan para pihak, yaitu:

Pertama, Elit pemuda Punge Blang Cut. Kerja keras elit pemuda yang secara kasat mata memang tidak kentara di hadapan anggotanya. Pada tingkat elit, relasi dan kerja-kerja penguatan kelembagaan Kepemudaan Punge Blang Cut dilakukan melalui relasi-relasi dan koordinasi dengan para pihak yang secara umum berkaitan dengan pengelolaan wisata Kapal PLTD Apung I dan Taman Edukasi Tsunami. Kegiatan yang dilakukan antara lain: berkonsolidasi dengan donor, penyumbang dana, sponsor, Pemerintah Provinsi dan Kota, Dinas Pariwisata Propinsi dan Kota, NGO’s dan Pemerintah dan Tokoh Masyarakat setempat.

Kedua, Peran pengurus kelembagaan Pemuda Punge Blang Cut. Solidaritas pengurus dan sifat volunteerisme (kerelawanan) pengurus pemuda merupakan salah satu faktor kekuatan yang sangat efektif dan keberlanjutan pengelolaan kawasan wisata Kapal PLTD Apung I yang sampai saat ini (30 April 2009). Perang utama yang dilakukan yaitu melakukan konsolidasi kekuatan anggotanya untuk tetap menjaga energi dan tetap terus menumbuhkan sinergi kebersamaan dan melakukan tugas-tugas kepengurusan dengan penuh tanggung jawab dan rasa sukarela yang tinggi.

Ketiga, Peran masyarakat. Masyarakat di Kelurahan Punge Blang Cut secara tidak langsung memberikan dukungan terhadap pengelolaan kawasan wisata Kapal PLTD Apung I oleh Pemuda PBC. Dukungan yang diberikan berupa partisipasi dalam kegiatan dan dukungan gagasan serta nasehat-nasehat yang positif untuk selalu menggunakan nilai-nilai dan budaya lokal Aceh sebagai batasan kegiatan dan alat kontrol pergaulan bermasyarakat sebagai potensi budaya dan wisata masyarakat Aceh yang tidak dimiliki oleh masyarakat lainnya di Indonesia. Kekuatan-kekuatan seperti ini-lah biasanya wisatawan menjadi tertarik untuk kembali datang berkunjung dan akan mengabarkan kepada masyarakat lainnya di dunia untuk diajak datang dan berkunjung menikmati kekayaan dan keramahan budaya Aceh khususnya di kawasan wisatan Kapal PLTD Apung I dan Taman Edukasi Tsunami.

Keempat, Peran Pemerintahan lokal. Pemerintahan Kelurahan Punge Blang Cut sebagai pemerintahan lokal terbawah di Nangroh Aceh Darusalam yang menaungi wilayah tersebut telah memberikan peran yang penting terhadap dukungan pengurusan Pemuda Punge Blang Cut dalam pengurusan kawasan wisata Kapal PLTD Apung I oleh Pemuda PBC. Beberapa peran penting yang konkrit yaitu 1) memberikan perijinan kegiatan dan aktifitas yang kreatif untuk menghidupkan pengelolaan kawasan wisata di sekitar Kapal PLTD Apung I; 2) turut berpartisipasi secara langsung dalam kegaitan yang dilaksanakan Pemuda PBC; 3) turut berpihak untuk Pemuda PBC ketika berhadapan dengan pemerintahan dan pihak ketiga dalam kaitannya dengan issue-issue kawasan wisatan sekitar Kapal PLTD Apung I.

Kelima, Peran jaringan kerja pihak ketiga. Inisiasi Pemuda PBC untuk mengadakan koordinasi dengan pihak ketiga memberikan tingkat keberhasilan yang tinggi terhadap gagasan-gagasan ideal untuk mewujudkan kehendak untuk terus berkembang dalam pengelolaan Kawasan Wisata Kapal PLTD Apung I yang berbasis komunitas lokal secara komunal dan mandiri. Beberapa kegiatan yang melibatkan pihak ketiga yaitu: Edutainment dan Pameran dalam rangka memperingati 17 Agustus 1945, pada tanggal 22-23 Agustus 2008 yang berkerjasama dengan International Organization of Migration (IOM) Banda Aceh; Kegiatan Pentas Seni Aneuk Gampong selama 2 bulan berturut-turut yang dilaksanakan setiap minggu ketiga pada bulan Februari dan Maret 2009, yang berkerjasama dengan Sanggar Tari Humaira, Extrajoss, International Organization of Migration (IOM) Banda Aceh.

Potensi Kawasan Wisata Kapal PLTD Apung I mempunyai peluang besar menjadi kawasan wisata yang berbasis masyarakat lokal dalam pengelolaannya. Hal ini sudah dapat dibuktikan secara nyata bahwa pengelolaan yang dilakukan oleh Pemuda PBC secara mandiri dapat dipertanggung-jawabkan untuk mengelola asset wisata dengan peluang-peluang yang dapat dikembangkan lebih lanjut untuk dapat mengembangkan dan mendukung kreativitas gagasan wisata komunal. 
Setakat ini saja yang bisa teman kongsi buat kali ini n insyaAllah jika diberi kesempatan dan kekuatan oleh Allah SWT , akan teman share lagi tmpat2x yg bersejarah di bumi Aceh ini...Lebih dan kurang mohon dimaafin ya' 
- Semoga ada manfaatnya buat kita semua -:)
REFRENSI :
http://www.pemudapungeblangcut.multiply.com/

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...